- Kasus Proyek Kolam Air Tawar Kalukku: Belum Ada Kepastian Hukum, Kajari Bungkam
- Sejumlah Dugaan Kasus Hukum di Mamuju Masih Menggantung, Aliansi Mendesak Kejari Transparan
- Dapur MBG Simbuang: Antara Dalih Prosedur, Pembiaran Otoritas, dan Aroma “Permainan
- Program Makan Bergizi Gratis di Mamuju Disorot, Aktivis Desak KAREG Sulbar Dievaluasi
- DESA TAAN MILIKI 4.694 JIWA, RATUSAN WARGA MASIH HIDUP DI BAWAH GARIS KEMISKINAN
- WARGA BULLUNG PROTES: BANTUAN DESA TIDAK MERATA, YANG MAMPU DAPAT, YANG BENAR-BENAR MISKIN TERTINGGAL
- GEBRAK Sulbar Kembali Soroti Satpol PP Mamuju: Desak BPK Telusuri Jejak Anggaran, Waspadai Laporan Fiktif
- Tidak ada klarifikasi, dugaan laporan fiktif satpol PP Mamuju kian kuat: ketua gebrak desak bendahara dan sekretaris diperiksa
- IJS SULBAR DESAK SATPOL PP MAMUJU TRANSPARAN: IRHAM AZIS MINTA KEJAKSAAN AUDIT ANGGARAN LINGKUNGAN YANG DIDUGA FIKTIF
- GEBRAK SULBAR APRESIASI PUTUSAN TEGAS POLRESTA MAMUJU: BRIPTU AHMAD KASYFI DIPATSU 14 HARI, BUKTI TAK ADA OKNUM YANG KEBAL HUKUM
Edukasi Anti Rokok Jadi Senjata Sulbar Tekan Angka Stunting

Mamuju – Pemprov Sulbar terus memperkuat upaya pencegahan stunting dengan terus menggerakkan kampanye edukasi bahaya rokok yang menyasar remaja, keluarga, dan masyarakat umum.
Kegiatan ini dilakukan melalui sekolah, pesantren, serta media sosial dengan pesan utama bahwa paparan asap rokok tidak hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga meningkatkan risiko stunting pada anak balita.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat menunjukkan bahwa lebih dari 62% masyarakat masih terpapar asap rokok. Kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya risiko stunting, di mana 26,54% balita di Sulbar tercatat mengalami stunting (sekitar 18.691 anak dari 70.419 balita yang ditimbang).
Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nusryamsi Rahim, menyampaikan bahwa upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara terpadu, termasuk melalui edukasi bahaya rokok di rumah tangga.
“Anak-anak yang tinggal bersama orang tua perokok berisiko lebih tinggi mengalami stunting. Karena itu, edukasi anti-rokok menjadi bagian penting dari program kesehatan keluarga. Kami ingin masyarakat sadar bahwa rokok tidak hanya merugikan kesehatan, tetapi juga mengurangi alokasi anggaran keluarga untuk pangan bergizi,” ungkap dr. Nusryamsi.
Selain kampanye edukasi, Dinas Kesehatan Sulbar juga memberikan Pemberian makanan tambahan melalui DAK Non Fisik Puskesmas bagi balita berisiko stunting, yang disertai dengan komponen edukasi.
Langkah ini sejalan dengan Visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera dengan Panca Daya untuk mewujudkan SDM yang unggul dan berkarakter yang digagas oleh Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S Mengga.
Melalui sinergi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan upaya ini dapat menekan angka stunting serta menciptakan generasi Sulawesi Barat yang lebih sehat, cerdas, dan sejahtera. (Rls)




0 comments