- PERMAHI Mamuju Desak Propam Polda Sulbar Terus Tindaklanjuti Laporan Dugaan Pelanggaran Etik Kapolres Pasangkayu
- 26 Personil Satlantas Polresta Mamuju Siaga di Anjugan Manakarra
- Gubernur Sulbar Apresiasi Pengabdian Polri pada Panggung Gembira HUT Bhayangkara ke-80
- Dinas Perhubungan Mamuju Akan Tetapkan Ukuran Lahan Parkir Standar dan Adil
- Perketat Pengawasan Parkir, Dinas Perhubungan Ingin Tingkatkan PAD dan Cegah Kebocoran
- Forum Satu Data: Komitmen Integrasi Data Berbasis Desa hingga Provinsi
- Perkuat Tata Kelola, Clearing House PBJ Sulbar Fokus Kesiapan 10 Paket Strategis
- Kasus Proyek Kolam Air Tawar Kalukku: Belum Ada Kepastian Hukum, Kajari Bungkam
- Sejumlah Dugaan Kasus Hukum di Mamuju Masih Menggantung, Aliansi Mendesak Kejari Transparan
- Dapur MBG Simbuang: Antara Dalih Prosedur, Pembiaran Otoritas, dan Aroma “Permainan
WARGA BULLUNG PROTES: BANTUAN DESA TIDAK MERATA, YANG MAMPU DAPAT, YANG BENAR-BENAR MISKIN TERTINGGAL

KAREBASATU.COM | MAMUJU – Baharuddin (45), warga Dusun Bullung, Desa Taan, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, angkat suara mengeluhkan kebijakan pemerintah desanya terkait penyaluran bantuan. Menurutnya, pembagian bantuan yang bersumber dari anggaran desa dinilai sangat timpang, tidak merata, dan jauh dari kata tepat sasaran.
Dipanggil akrab Uddin, warga yang hidup sederhana ini mengaku kerap tertinggal dan tidak pernah tersentuh bantuan, padahal secara ekonomi kondisinya jauh di bawah rata-rata warga yang justru tercatat sebagai penerima manfaat.
“Kalau saya lihat daftar penerima, hampir sebagian besar yang dapat justru warga yang tergolong mampu. Rumah mereka sudah bagus, kebutuhan tercukupi, kendaraan ada. Kalau dibandingkan dengan kondisi saya, bedanya sangat jauh. Saya yang nyaris tiap hari berpikir cari makan saja tidak pernah tersentuh, malah mereka yang serba ada yang kerap tercantum nama di kertas itu,” ungkap Uddin dengan nada kecewa, Sabtu (6/6/2026).
Menurut pengamatannya di lapangan, data yang dipegang oleh perangkat desa saat ini dinilai sudah tidak relevan dan tidak mencerminkan kondisi nyata warga. Ia menyebut masih banyak tetangga dan kerabat di sekitarnya yang hidup pas-pasan, masuk kategori miskin, dan sangat membutuhkan uluran tangan, namun namanya tak pernah terdata dalam daftar penerima bantuan apa pun.
Karena ketimpangan yang terus berulang ini, Uddin meminta tegas kepada seluruh jajaran perangkat Desa Taan agar lebih jeli, teliti, dan cermat dalam memverifikasi kondisi masyarakat. Ia menekankan pentingnya melakukan evaluasi ulang terhadap seluruh basis data yang ada agar anggaran desa tidak dinikmati oleh kalangan yang sebenarnya tidak membutuhkannya.
“Harapan saya, perangkat desa harus turun langsung ke jalan, masuk ke rumah-rumah warga, jangan hanya duduk di kantor dan percaya data lama. Lakukan evaluasi ulang sekarang juga. Masih banyak saudara kita yang miskin, yang layak dan berhak menerima bantuan, tapi namanya tak tercatat sama sekali. Jangan sampai uang rakyat kembali ke rakyat hanya jadi isian dompet kalangan tertentu saja,” tegasnya.
Uddin berjanji tidak akan diam jika ketidakadilan ini terus berlanjut. Ia berharap pemerintah desa lebih transparan dan berani memperbarui daftar penerima agar hak warga miskin yang sesungguhnya kembali pulih. Baginya, bantuan bukanlah hadiah pilih kasih, melainkan amanah untuk menutupi kebutuhan warga yang hidupnya masih serba kekurangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Desa Taan terkait keluhan yang disampaikan warganya ini.
Laporan: Muh Amrin




0 comments