- Kasus Proyek Kolam Air Tawar Kalukku: Belum Ada Kepastian Hukum, Kajari Bungkam
- Sejumlah Dugaan Kasus Hukum di Mamuju Masih Menggantung, Aliansi Mendesak Kejari Transparan
- Dapur MBG Simbuang: Antara Dalih Prosedur, Pembiaran Otoritas, dan Aroma “Permainan
- Program Makan Bergizi Gratis di Mamuju Disorot, Aktivis Desak KAREG Sulbar Dievaluasi
- DESA TAAN MILIKI 4.694 JIWA, RATUSAN WARGA MASIH HIDUP DI BAWAH GARIS KEMISKINAN
- WARGA BULLUNG PROTES: BANTUAN DESA TIDAK MERATA, YANG MAMPU DAPAT, YANG BENAR-BENAR MISKIN TERTINGGAL
- GEBRAK Sulbar Kembali Soroti Satpol PP Mamuju: Desak BPK Telusuri Jejak Anggaran, Waspadai Laporan Fiktif
- Tidak ada klarifikasi, dugaan laporan fiktif satpol PP Mamuju kian kuat: ketua gebrak desak bendahara dan sekretaris diperiksa
- IJS SULBAR DESAK SATPOL PP MAMUJU TRANSPARAN: IRHAM AZIS MINTA KEJAKSAAN AUDIT ANGGARAN LINGKUNGAN YANG DIDUGA FIKTIF
- GEBRAK SULBAR APRESIASI PUTUSAN TEGAS POLRESTA MAMUJU: BRIPTU AHMAD KASYFI DIPATSU 14 HARI, BUKTI TAK ADA OKNUM YANG KEBAL HUKUM
Siswa SD di Kabupaten Mamuju Ini Bertahun-tahun Belajar Dalam Kelas Berlantai Tanah
MAMUJU KAREBA1-Ratusan siswa di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Mamuju setiap hari harus pasrah belajar di ruang kelas berlantai tanah dengan bangku dan meja kayu yang berdebu dan sudah lapuk dimakan usia.
Kondisi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini, dialami oleh anak-anak Sekolah Dasar Kecil (SDK) Dusun Tande-Tande Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Pantauan wartawan Kareba1.Com Jumat (16/10/2015) sore, bangunan gedung sekolah yang terdiri dari tiga ruang kelas berdidinding papan yang sebagian sudah copot tersebut seluruhnya berlantai tanah termasuk satu ruang kantor.
Di ruang kelas, beberapa buah bangku dan meja belajar siswa yang terbuat dari kayu terlihat berantakan dan berdebu.
Di bagian langit-langit ruangan, plafon yang terbuat dari tripleks tampak sebagian sudah lepas dan berjatuhan. Sebagian diantaranya, terlihat sudah lepas dan masih bergelantungan.
Abbas salah seorang guru yang berhasil ditemui di lokasi mengatakan, kondisi itu sudah berlangsung lama. Abbas mengaku, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Sebab untuk bisa tiba di sekolah ini saja, para guru dari luar dusun termasuk dirinya, harus berjuang setiap hari melalui jalan yang terjal dan licin.
Ia mengatakan, kondisi bangunan sekolah yang terlihat kumuh itu, tidak lepas dari akses jalan ke wilayah tersebut yang hingga saat ini hanya bisa dijangkau dengan roda dua meskipun harus dengan susah payah.

Bahkan di musim hujan, lanjut Abbas, kadang-kadang warga dusun Tande-Tande dan juga warga Desa Tanete Pao di sebelahnya, harus jalan kaki beberapa kilometer jauhnya untuk bisa masuk atau keluar dari wilayah terisolir di bagian pegunungan Kabupaten Mamuju ini.
Akibatnya kata Abbas, meskipun wilayah ini tidak seberapa jauh dari jalan poros Mamuju – Majene, namun kondisi yang dialami warga setempat, tidak pernah mendapat perhatian orang luar karena akses jalan yang sulit tersebut.
“Siapa pejabat yang mau masuk? Kalau tidak biasa naik motor di jalan rusak dan mendaki, jangan coba-coba masuk, bisa-bisa ditandu pulang,” kata Abbas.
Abbas sendiri mengaku rela setiap hari malalui jalan yang kadang sama sekali tidak bisa dilalui roda dua di musim hujan itu karena panggilan pengabdian, selain itu banyak keluarga dekatnya yang tinggal di wilayah itu.
“Saya hitungannya karena masih keluarga semua di sini. Siapa lagi yang mau masuk mengajar kalau bukan kita,” kata Abbas yang rumahnya berada di sisi jalan poros Mamuju-Majene.
Terkait dengan bagnunan sekolah, Abbas mengatakan, seiring semakin banyaknya jumlah siswa, informasi terakhir yang ia peroleh, akan ada penambahan tiga ruang kelas baru yang pengerjaannya sekitar awal 2016 mendatang.
Namun ia mengatakan, sekalipun akan ada penambahan bangunan, akan tetapi hal tersebut sama sekali tidak akan memperbaiki kondisi kerusakan yang ada saat ini.
Oleh sebab itu ia berharap, ada rehabilitasi bangunan lama sehingga murid-murid yang ada bisa merasa sedikit nyaman dalam belajar di kelas.
“Ini perlu mendapat perhatian pengambil kebijakan di daerah, sekolah ini butuh rehabilitasi bagunan yang sudah tua,” katanya.
Penulis: Muh Gufran Padjalai



0 comments