- 26 Personil Satlantas Polresta Mamuju Siaga di Anjugan Manakarra
- Gubernur Sulbar Apresiasi Pengabdian Polri pada Panggung Gembira HUT Bhayangkara ke-80
- Dinas Perhubungan Mamuju Akan Tetapkan Ukuran Lahan Parkir Standar dan Adil
- Perketat Pengawasan Parkir, Dinas Perhubungan Ingin Tingkatkan PAD dan Cegah Kebocoran
- Forum Satu Data: Komitmen Integrasi Data Berbasis Desa hingga Provinsi
- Perkuat Tata Kelola, Clearing House PBJ Sulbar Fokus Kesiapan 10 Paket Strategis
- Kasus Proyek Kolam Air Tawar Kalukku: Belum Ada Kepastian Hukum, Kajari Bungkam
- Sejumlah Dugaan Kasus Hukum di Mamuju Masih Menggantung, Aliansi Mendesak Kejari Transparan
- Dapur MBG Simbuang: Antara Dalih Prosedur, Pembiaran Otoritas, dan Aroma “Permainan
- Program Makan Bergizi Gratis di Mamuju Disorot, Aktivis Desak KAREG Sulbar Dievaluasi
Jalin Silaturrahim, KKPUS Kota Tarakan Rutin Gelar Pertemuan Bulanan

TARAKAN KAREBA1-Dalam rangka menjalin silaturrahim, warga perantau dari daerah Pitu Ulunna Salu (PUS) Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) yang tinggal di Kota Tarakan setiap bulan rutin menggelar pertemuan. Para perantau asal daerah pegunungan Sulbar ini tergabung dalam Kerukunan Keluarga Pitu Ulunna Salu (KKPUS) Kota Tarakan.
Pada Minggu (16/8) malam, KKPUS Kota Tarakan yang saat ini ketuanya dijabat Mulyono Karim, kembali menggelar pertemuan di rumah salah seorang anggota kerukunan.
Nurwahida warga Kota Tarakan asal PUS yang kuliah di Universitas Negeri Malang Jawa Timur via BBM kepada Kareba1.Com mengatakan, biasanya tempat pertemuan warga KKPUS Kota Tarakan digilir ke setiap rumah anggota kerukunan.
Suriah, perantau asal Kecamatan Aralle yang telah puluhan tahun tinggal di Kota Tarakan mengatakan, pertemuan KKPUS yang digelar kali ini adalah agenda rutin bulanan yang kali ini baru bisa terlaksana setelah libur selama Ramadhan.
“Alhamdulillah terlaksana juga pertemuan keluarga setelah Ramadhan,” kata Suriah.
Rumia, perantau yang lain mengatakan, pertemuan bulanan ini digelar untuk menjalin silaturrahim antara sesama perantau khususnya yang berasal dari daerah pegunungan PUS.
“Selain diisi pengajian, juga ada arisan ibu-ibu. Intinya adalah silaturrahim sesama warga PUS satu kali sebulan,” kata Rumia.
Menurut salah satu pendapat, daerah PUS atau Pitu Ulunna Salu yang artinya tujuh hulu sungai, di masa lalu jauh sebelum masuknya pemerintahan imperialisme Belanda, merupakan kesatuan dari tujuh wilayah pemerintahan adat di daerah hulu sungai wilayah pegunungan Provinsi Sulawesi Barat sekarang.
Daerah tersebut saat ini meliputi wilayah kecamatan Tabulahan, Bambang, Mambi, Aralle, Rantebulahan, Matangga dan Tabang serta wilayah-wilayah kecamatan pemekaran lain di sekitarnya yang saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Mamasa kecuali Kecamatan Matangnga yang masuk dalam wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Polewali Mandar.
Editor: Gufran Padjalai

0 comments