- Kasus Proyek Kolam Air Tawar Kalukku: Belum Ada Kepastian Hukum, Kajari Bungkam
- Sejumlah Dugaan Kasus Hukum di Mamuju Masih Menggantung, Aliansi Mendesak Kejari Transparan
- Dapur MBG Simbuang: Antara Dalih Prosedur, Pembiaran Otoritas, dan Aroma “Permainan
- Program Makan Bergizi Gratis di Mamuju Disorot, Aktivis Desak KAREG Sulbar Dievaluasi
- DESA TAAN MILIKI 4.694 JIWA, RATUSAN WARGA MASIH HIDUP DI BAWAH GARIS KEMISKINAN
- WARGA BULLUNG PROTES: BANTUAN DESA TIDAK MERATA, YANG MAMPU DAPAT, YANG BENAR-BENAR MISKIN TERTINGGAL
- GEBRAK Sulbar Kembali Soroti Satpol PP Mamuju: Desak BPK Telusuri Jejak Anggaran, Waspadai Laporan Fiktif
- Tidak ada klarifikasi, dugaan laporan fiktif satpol PP Mamuju kian kuat: ketua gebrak desak bendahara dan sekretaris diperiksa
- IJS SULBAR DESAK SATPOL PP MAMUJU TRANSPARAN: IRHAM AZIS MINTA KEJAKSAAN AUDIT ANGGARAN LINGKUNGAN YANG DIDUGA FIKTIF
- GEBRAK SULBAR APRESIASI PUTUSAN TEGAS POLRESTA MAMUJU: BRIPTU AHMAD KASYFI DIPATSU 14 HARI, BUKTI TAK ADA OKNUM YANG KEBAL HUKUM
Atasi Kekeringan Pemkab Mamuju Libatkan TNI
MAMUJU KAREBA1-Musim kemarau berkepanjangan sejak Juni 2015 membuat ratusan hektare tanaman padi di Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat dihantam kekeringan.
Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, Sofyan, di Mamuju, mengatakan, pemerintah dan petani melibatkan aparat TNI telah bersama berkoordinasi mengatur starategi dalam mengatasi kekeringan
salah satunya dengan membangun sistem pompanisasi dan beberapa cara lainnya.
“Pompanisasi merupakan siasat yang dilakukan menghadapi kekeringan
agar petani tidak merugi mengembangkan tanaman padi yang dapat merugikan ekonomi daerah,” katanya.
Menurut Sofyan pemerintah akan menyediakan sarana pompanisasi
dengan membangun sumur dan pipa di areal pertanian petani. Setiap sumur diharapkan mampu mengairi hingga tiga hektare lahan pertanian padi petani.
Namun kata dia, nggaran terbatas untuk pompanisasi merupakan kendala yang dihadapi pemerintah sehingga harus ada anggaran tambahan dari pemerintah pusat untuk program mengantisipasi bencana tahunan ini.
Kata Sofyan selain melakukan program pompanisasi sebelumnya
juga dilaksanakan program lainnya mengantisipasi kekeringan diantaranya mengatu masa tanam padi yakni pada saat kemarau petani
menanam palawija seperti jagung dan kedelai diareal tanaman padi yang
terancam kekeringan.
“Jadi kekeringan sejak dulu sesungguhnya sudah diantisipasi ketika mengancam sawah yang potensial terancam kekeringan dengan melakukan pola tanam sekali dalam setahun, agar petani tidak merugi karena mengeluarkan biaya produksi menanam padi, pemerintah telah menyarankan agar petani mengembangkan tanaman palawija,” kata Sofyan yang pernah menjadi staf hama penyakit pertanian ini.
Ia mengatakan, petani yang tetap menanam dibantu pemerintah melakukan sistem pompanisasi pada areal sawah petani yang tadah hujan diseluruh Kecamatan di Mamuju, selain itu menyediakan bibit tahan kekeringan.
Program lainnya yang dilakukan juga adalah membangun sumur serapan
yang mampu menyedot air dari bawah tanah sehingga mampu mengairi sawah petani ketika kemarau tiba.
“Kita berharap kemarau bukan ancaman bagi ketersediaan pangan
masyarakat di Mamuju karena telah diantisipasi pemerintah ketika
terjadi, kemarau telah terjadi setiap tahun namun persediaan stok
pangan masyarakat tetap terjamin,” katanya.
Penulis : Cal.
Editor : Gufran Padjalai
0 comments