Kemasan

By on Selasa, 25 Agustus 2015

Oleh: Gufran Padjalai

NILAI suatu pekerjaan bukan semata-mata hanya dilihat dari hasilnya, tetapi juga penting mengetahui bagaimana pekerjaan itu dilakukan.

Pernyataan di atas tentu bisa diterima jika kita mengambil beberapa ilustrasi berikut, misalnya tentang bagaimana seorang pejabat pemerintah mendapatkan harta.

Jika nilai kesuksesan sang pejabat kita letakkan pada seberapa banyak ia memiliki harta kekayaan, maka tentu pejabat yang akan masuk kategori paling sukses hari ini menurut kita adalah mereka yang sebagian sudah berada dibalik tembok penjara dan mereka yang masih ditangan penegak hukum dan masih menjalani proses pemeriksaan serta mereka yang mungkin saat ini selalu dihantui rasa ketakutan karena melakukan korupsi dan penggelapan.

Di sinilah kelihatan betapa sangat penting apa yang bisa kita sebut di sini sebagai kemasan. Kemasan yang dimaksud adalah cara bagaimana sesuatu itu dilakukan.

Tujuan yang baik tetapi dilakukan dengan cara yang salah bisa menyebabkan kebaikan itu tak diterima.

Makanan yang enak tetapi dikemas dalam wadah yang buruk, bukan akan mengundang selera, tapi yang ada malah justru akan membuat muntah.

Mencari nafkah untuk anak istri adalah baik, wajib dan bernilai pahala, namun di depan norma hukum dan agama akan menjadi salah dan berbuntut dosa ketika nafkah itu diperoleh misalnya dengan jalan merampok dan menjarah.

Demikian pula halnya dengan memberi nasehat, oleh para orang tua, guru sekolah ataupun penceramah. Ilmu atau nasehat yang disampaikan tentu terkait sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi anak-anak, siswa dan pendengar, namun jika ilmu atau nasehat tersebut disampaikan dengan cara yang kurang tepat maka tentu tidak akan memikat dan bahkan bisa sama sekali tidak membekas.

Misalnya karena cara penyampaiannya dikemas dengan kalimat-kalimat kasar dan dilakukan di tempat yang tidak nyaman karena suara bising atau di dalam ruangan yang dekat kamar kecil yang berbau pesing.

Mungkin para pendengarnya sanggup berlama-lama karena menunggu sebuah cindera mata, namun begitu selesai, bahan cerita dan obrolan pertama yang keluar dari mulut mereka, bukan soal materi dan sikap pembicara yang sangat memukau dan menginspirasi, tetapi adalah soal tempat dan kemasan acara yang sungguh telah sangat membuat gerah dan lelah.

Cara melakukan dan menampilkan suatu pekerjaan atau kegiatan dan karya yang kita sebut dengan kemasan juga bisa menipu.

Di tahun-tahun ketika sering terjadi serangan dari mereka yang disebut oleh aparat sebagai teroris, begitu banyak imbauan dan peringatan untuk hati-hati terhadap paket kiriman. Sebab ternyata, ada bom berdaya ledak tinggi yang bisa diselundupkan dalam bentuk paket hadiah. Dan tentu saja dengan kemasan yang bagus dan indah.

Seorang pemuda juga harus jeli mendekati seorang yang bertubuh aduhai jika untuk mencari kekasih. Sebab sudah lebih cantik daripada seorang gadis saat ini dengan apa yang ditampilka seorang banci.

Jika sesuatu yang berbahaya dan palsu bisa membuat kita tertarik kemudian tertipu karena dikemas dengan indah, maka alangkah memesonanya suatu kebaikan yang dikemas dengan sentuhan tangan-tangan mereka yang mengerti dan paham akan nilai-nilai keindahan dan kebaikan.

Di sinilah peran seni yang kita maknai disini sebagai cara melakukan sesuatu dengan memperhitungkan keindahan itu.

Ki Hajar Dewantara megatakan, seni merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan perasaan indah orang yang melihatnya. Alexander Baum Garton berpendapat, seni adalah keindahan dan seni adalah tujuan yang positif menjadikan penikmat merasa dalam kebahagiaan.

Dalam contoh memberi nasehat yang kita sebut di atas, penampilan sang guru atau penceramah saat penyampaikan nasehat atau saat menjelaskan materi suatu ilmu, penting untuk memperhatikan aspek kindahan.

Di sini juga peran budaya sangat menentukan. Sebagai hasil olah dari budi dan akal manusia, budaya menjadi suatu yang memberi makna pada hidup dan kehidupan manusia sehingga tidak berperilaku hewaniah.

Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni itu sendiri.

Meski tetap harus dihargai, tetapi harus dipahami bahwa satu produk budaya tidak akan selau bisa diterima di semua kelompok atau komunitas masyarakat secara global. Berbeda dengan karya seni yang justru dianggap selalu bisa diterima dan nilai keindahannya berlaku universal.

Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.

Dan cara berbahasa serta sikap dan berperilaku sehari-hari seseorang, merupakan cermin dari budaya yang diterima, dianut dan dijalankan.

Kembali ke bahasan tentang
pentingnya kemasan, maka kehadiran seni dan budaya, sebagai hasil olah akal dan budi manusia yang diwariskan secara turun-temurun dan terus mengalami perkembangan dan penyesuaian, juga kehadiran para seniman dan budayawan, merupakan hal yang sangat strategis untuk memberi nilai lebih pada segala aktivitas kehidupan manusia yang tak hanya selalu dilihat dari sekedar tujuan dan hasil belaka, tetapi juga pada kemasan dan cara melakukannya.

Seni adalah keindahan yang bisa membahagiakan dan budaya adalah hasil olah akal budi manusia yang lahir untuk dihargai.

Alangkah bahagianya hidup dengan kehadiran seni yang ditampilkan para seniman dengan taburan keindahan. Dan alangkah luhur dan berharganya budaya yang akan selalu dijaga, dipelihara dan diperagakan dengan akal dan budi oleh para budayawan untuk dijadikan panutan.

Wallahu a’lam bissawaab
Padang Baka, 25 Agustus 2015